Saya berdoa: Ya Rabb, limpahkan keihlasan di hati hamba-Mu yang dungu ini. Maafkanlah bilamana apa-apa yang hamba lakukan belum memenuhi kriteria yang Engkau gariskan.
Terangkanlah pikiran, sinari hati hamba dalam berusaha dan belajar memaknai firman-MU.
Ya Allah, ya Rabb, tanamkan keikhlasan di lubuk hati hamba, di danau jiwa sahabat-sahabat hamba, agar jalan kami seayun ke mahligai ikhlas-MU.
Amin.
Ikhlas….
Apa itu ikhlas ?
Sekedar merelakan sesuatu yang hilang sajakah?
BUKAN !!!
Bukan seperti tanda sebuah keikhlasan…
Sepuluh tanda keikhlasan adalah :
Tidak mencari popularitas
Tidak menonjolkan diri,
Tidak rindu pujian
Tidak terkecoh pujian,
Tidak silau dan cinta jabatan,
Tidak diperbudak Imbalan dan balas budi,
Tidak mudah kecewa,
Tidak fanatik golongan, ringan, lahab dan Nikmat dalam Beramal,
Tidak egois karena selalu mementingkan kepentingan bersama,
Tidak Membeda-bedakan dalam pergaulan
Demikianlah sepuluh tanda-tanda orang ikhlas. Kalaulah tanda-tanda tersebut dipindai lalu kalau dirasa kurang pas, diperbaiki, sungguh menjadi ‘tiket’ menuju perilaku ikhlas. Sesuatu yang mungkin sangat akrab dengan keseharian kita.
” undzur ma Qolaa wala tandzur man Qolaa ”
Yang artinya kalo tidak salah adalah ” kebaikan bisa datang dari mana saja”
Jadi tidak perlu kuatir dengan kita tidak iklas maka tidak akan mendapatkan kebaikan.
Seperti yang saya alami sendiri adalah ditinggalnya ayahanda tercinta dan kekasih yang kusayang.
Berat…
Sedih…
Tapi mau bagaimana lagi ?
Semua saya anggap ini adalah JalanNYA yang telah diberikan kepada hambanya,
dan ini adalah jalan terbaik yang DIA berikan untuk saya jalani.
IKHLAS….
Merelakan sesuatu yang membuat kita sayang,cinta dan selalu ingin berada dalam dekatnya.
IKHLAS….
Belajar sabar dalam menghadapi segala cobaanNYA, karena Allah tidak akan memberikan cobaan melebihi dari kemampuan hambaNYA.
IKHLAS…..
Janganlah kita beribadah karena mengaharapkan sesuatu, tetapi karena ikhlas.
IKHLAS…..
IKHLAS di jalanMU ya ALLAH…
Walau kita bukan orang yang sempurna semoga kita mau berusaha dan bisa menjadi seseorang yang lebih baik. Semoga yang sedikit ini bisa jadi renungan buat kita. amin.
cuplikan
Dunia Maya Ewa
MEMPRAKTIKAN IKHLAS.
Apabila kita membaca Al-Qur’an dan hadis Rasulullah, tidak pelak lagi, hati terenggut, jiwa terenyuh, qalbu tergugah, ikhlas menjadi pegangan kehidupan.
Ikhlas menyamankan dan menyelamatkan kehiduan di dunia sampai ke akhirat. Sungguh indah dan memberi harap.
Tetapi, begitu dipraktikkan sekian tanya bergabung, ikhlaskah saya?
Apakah betul-betul ikhlas?
Itu kalau jiwa masih dalam tuntunan kalimah-kalimah Allah SWT. Kalau sudah dibelenggu iblis, ukuran ikhlas terbang entah kemana.
Ikhlas adalah komitmen kita pada Allah SWT, pada diri sendiri.
Kita bisa menipu orang, berlaku riya, berpura-pura ikhlas. Hanya saja, selepas beriya-riya akan ada teguran ke ulu hati: kamu pamer, kamu tidak ikhlas, kamu riya. Syukur.
Yang parah, kalau tali ikhlas sudah putus, sudah tak ada lagi. Melakukan sesuatu itu seenake dewe, seenak udulne. Kalau sudah demikian, tidak usah lagi bicara ikhlas. Ikhlas sama saja dengan riya. Yang penting tampail keren, rumah berpuluh-puluh, mobil tinggal pilih, tabungan tak terhitung, sekalipun gaji PNS untuk biaya transportasi dan komunikasi saja tidak cukup. Pongah pula di Bumi Allah.
Auzubillahi min zalik.
Ikhlas, selama uratnya masih ada di jiwa, sekalipun tidak serta-merta menjamin perilaku ikhlas, adalah modal dasar dalam pengabdian vertikal dan horizontal. Hanya saja, tidak dapat digapai begitu saja. Perlu perjuangan.
Coba ingat-ingat. Ketika kecil ketika ada pengemis, Ibu-Bapak melatih memberi sedekah dengan ikhlas atau mengajarkan menyumbang ke langgar. Bisa pula mendatangi panti asuhan. Makna kandungannya, perilaku ikhlas harus ditumbuhkan, dikembangkan, dilatih, hingga berkilau dalam jiwa bak intan permata.
Degan kata lain, jangan pernah surut melakukan kewajiban ibadah, melakukan kewajiban sosial, betapun kadar keikhlasannya. Pemahaman keihlasan pahami dari minimalis mencapai maksimalis. Sesuatu tidak terjadi dengan sendirinya, kecuali bagi Allah SWT, kun fayakun.
Tarohlah pada tahap awal, misal dalam berbagi untuk sesama, ada sangkutan non-ikhlas, tidak mengapa. Jangan putus asa. Berbagi saja sudah perbuatan baik. Tugas kita, semakin hari semakin tinggi kadarnya. Berbagi sekaligus menghilangkan kerak atau bercak-bercak riya, berlatih, berlatih menuju ikhlas sempurna.
Beribadah saja perlu dilatih. Ketika kecil tertatih sekadar membaca Bismilah apalagi surat Al-Ikhlas. Terus dilatih dengan melakukannya, dan … akhirnya fasih. Artinya, belajar sesuatu dengan melakukannya. Fasih jalan karena ditempuh.
Karena itu, tidak ada alasan untuk tidak belajar. Berlatih ikhlas berarti melakukan berapapun rendah kadarnya. Memangnya begitu lahir kita paham segala sesuatu? Tidak bukan? Kita bisa karena belajar. Ikhlas akan menjadi mapan apabila dilatih, terus menurus ditingkatkan mutunya. Ikhlas tidak datang sendiri. Sekalipun potensi sudah ada sejak ruh ditiupkan.
Karena itu, kalaupun ada yang mencibir saya menulis tentang ikhlas, ikhlas saja menerimanya. Begitulah risiko belajar. Ya, saya sedang belajar memamahi ikhlas, dan berupaya mempraktikkan, sekaligus memindai kadarnya untuk ditingkatkan. Ikhlas sempurna ikhlas adalah harap yang tergadai yang memerlukan perjuangan. Dalam melakukan itulah berlatih.
Tulisan ini memang bukan ditujukan kepada mereka yang sudah sangat paham makna ikhlas. Tidak pula diperuntukkan bagi mereka yang dalam kehidupan telah menyatu dengan keikhlasan. Bukan. Narasi ikhlas lebih ditujukan dalam pembelajaran pribadi. Syukur kalau bermanfaat bagi lainnya.
Ikhlas dalam belajar ikhlas adalah perjuangan. Allah SWT telah menjanjikan, pada belajar yang dipratikkan saja sudah tersedia pahala. Kalau pembelajaran berhasil mencapai sasaran ikhlas sebagai gerak kehidupan, tentu itu yang dimaui.
Mari, sama-sama memamahi, belajar, mempraktikkan, dan selalu meningkatkan kadar ikhlas dengan melakukannya.